Killing Machine, Senjata Baru Eks Personel Legenda Thrash, Betrayer

0
file_00000000469882088c3e4b8c072f4ef0

JAKARTA — Nama Betrayer tentu tidak asing bagi para penikmat musik metal Tanah Air, khususnya mereka yang tumbuh bersama geliat musik underground era 1990-an. Salah satu lagu yang hingga kini masih lekat dalam ingatan para metalheads adalah “Bendera Kuning”, yang muncul dalam kompilasi musik underground Metalik Klinik 1.

 

Bagi banyak calon metalheads dan musisi metal pada masanya, lagu tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenal lebih jauh kerasnya musik underground Indonesia. Dari sana, tidak sedikit yang kemudian menyelami berbagai subgenre metal dan mengikuti perjalanan sejumlah band legendaris yang menjadi bagian penting dari sejarah musik underground Tanah Air.

 

Betrayer sendiri mengalami perjalanan panjang dengan beberapa kali pergantian personel. Salah satu cerita yang cukup menarik perhatian terjadi pada era 1998, ketika sosok Ustadz Derry Sulaiman sempat terlibat sebagai additional dalam perjalanan band tersebut.

 

Kini, jejak perjalanan Betrayer kembali menghadirkan babak baru. Dua gitaris yang menjadi bagian dari sejarah band tersebut, Lilik Wardiandi pada gitar sekaligus vokal dan Garry Martinus sebagai lead guitar, membentuk sebuah proyek baru bernama Killing Machine.

 

Nama Killing Machine pun menjadi semacam “senjata baru” bagi kedua musisi tersebut untuk kembali mengeksplorasi musik keras, sekaligus menghadirkan karya-karya baru yang diharapkan mampu melepaskan bayang-bayang besar nama Betrayer selama ini.

 

Killing Machine disebut berencana menghadirkan single baru, bahkan tidak menutup kemungkinan berlanjut hingga sebuah album. Kehadiran materi original tersebut tentunya menjadi sesuatu yang menarik untuk dinantikan, mengingat pengalaman dan perjalanan kedua personelnya yang sudah cukup panjang di skena metal.

 

Meski membawa identitas baru, Killing Machine tidak serta-merta meninggalkan akar sejarah yang telah membesarkan nama para personelnya.

 

Dalam setiap penampilan live, Killing Machine tetap membawakan sejumlah hits Betrayer, termasuk materi dari album pertama “Pasukan Berani Mati”. Kehadiran lagu-lagu tersebut tentunya menjadi jembatan nostalgia bagi para penonton yang pernah mengalami langsung era kejayaan Betrayer.

 

Bagi generasi lama, penampilan tersebut bisa menjadi perjalanan kembali ke masa ketika kaset, kompilasi underground, dan panggung-panggung metal menjadi bagian penting dalam memperkenalkan musik keras kepada publik. Sementara bagi generasi metalheads yang lebih muda, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenal kembali karya-karya salah satu nama penting dalam perjalanan thrash metal Indonesia.

 

Di sisi lain, kehadiran Killing Machine memberikan warna baru. Jika Betrayer merupakan bagian dari sejarah yang telah membentuk perjalanan para personelnya, Killing Machine menjadi ruang untuk melanjutkan eksplorasi musikal dengan identitas yang berbeda.

 

Perpaduan pengalaman Lilik Wardiandi dan Garry Martinus tentu menjadi salah satu daya tarik utama dari formasi baru ini. Apalagi, rencana menghadirkan single hingga kemungkinan album menjadi sinyal bahwa Killing Machine tidak sekadar hadir sebagai proyek nostalgia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *