Petani Jahe Gajah Sukabumi Dapat Pendampingan Menuju Pasar Dunia

0
IMG-20260520-WA0029

Unitymagz.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui sejumlah anak usahanya, seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Karabha Digdaya dan Bea Cukai tengah berupaya keras meningkatkan kesejahteraan kaum petani.

Salah satunya seperti yang terlihat di Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Daerah tersebut dikenal sebagai penghasil jahe gajah dan ditargetkan menjadi salah satu desa devisa.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi LPEI Saur Maria Sidabutar, mengungkapkan, ada banyak potensi yang dikembangkan agar hasil pertanian di tempat ini bisa menjadi komoditas ekspor.

Maria menyebut, ada sebanyak 147 desa yang berada di kawasan ini berhasil memproduksi kualitas unggul jenis jahe gajah. Dan itu berpeluang besar masuk pasar global.

“Ini yang punya potensi pasar di dunia cukup luas dan kita butuh kolaborasi bersama para pemangku kepentingan,” katanya dikutip pada Jumat, 1 Mei 2026.

Menurut Maria, pasar sangat terbuka tapi harus ada supervisi dari para ekspor yang sudah berpengalaman.

Sehingga, ketika menyiapkan infrastrukturnya para petani ini tidak kesulitan dan ketika ada order dari luar negeri mereka siap juga untuk mengepak atau mempersiapkan packingnya.

“Sehingga ketika sampai ke luar negeri produknya standarnya tetap terjaga, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” ujarnya.

Maria juga mengatakan, yang menjadi tantangan bagi para petani adalah ketika mereka harus mencukupi permintaan dan harus memastikan kualitas.

Terkait hal itu, LPEI bersama sejumlah pihak terkait akan turun langsung memberikan pendampingan.

“Nah pelatihan yang diberikan dalam sejumlah series nanti mempersiapkan mereka untuk satu memiliki bisnis etik atau etika bisnis. Kalau terjadi permintaan dan harus dipenuhi mereka harus memastikan kualitas tidak diturunkan, karena ada prinsip kalau kredibilitas itu dimiliki order akan datang terus, repeat order,” tuturnya.

Kemudian yang tak kalah penting, lanjut Maria, adalah memastikan petani ini tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Pemahaman mereka terhadap penggunaan pesticida atau non-chemical itu sangat baik dan pasar Eropa akan menangkap produk-produk atau menyambut produk-produk yang ramah lingkungan dan ini one of the product yang bisa represent kita sudah environmental friendly.”

Maria meyakini, jahe gajah dari Nagrek, Sukabumi bisa tembus pasar lima benua. Menurutnya tak sulit, karena herbal adalah kebutuhan yang paling banyak dicari untuk industri kesehatan.

“Kalau ini dari potensi desanya 147 desa yang terlibat pastinya kita berharap untuk bisa ekspor perdana nanti signifikan lah. Artinya membawa manfaat yang bisa dirasakan oleh para petani yang tergabung di dalamnya. Itu dulu,” katanya.

“Tadi kami sebutkan rempah-rempah itu di pasar Asia cukup besar. Negara tetangga juga. Tapi kalau bisa merambah sampai ke benua Eropa, nah itu akan lebih baik,” sambung dia.

Komitmen Dukung UMKM Naik Kelas

Plt. Corporate Secretary PT Karabha Digdaya Andy Revy Rohadian, mengatakan bahwa ini adalah bagian dari aksi nyata atau komitmen korporasi terhadap pengembangan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), khususnya dalam hal ini adalah pengembangan UMKM.

“Dalam hal ini adalah mendukung calon eksportir, yaitu jahe gajah ya. Kami sangat berbesar hati dan berbangga bahwa keberadaan PT Karaba berkontribusi positif dan semoga ke depannya akan lebih maksimal lagi hadir di tengah masyarakat dan bisa mendorong ekspor ataupun kegiatan-kegiatan TJSL lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor (PLI) Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, Betty Endang Purbawati Aprilyana mengatakan, jika ingin menembus pasar lima benua, hal yang perlu diperhatikan adalah pemahaman tentang pemberitahuan ekspor barang.

“Dan kami sebagai Bea Cukai meyakinkan kepada para petani, memberi semangat bahwa ekspor itu mudah dan tidak ada halangan untuk mereka dapat menembus lima benua,” ujarnya.

Betty memastikan, bahwa pihaknya akan berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua instansi yang ada.

“Semoga, mohon doanya ya, bahwa kita mampu nanti menembus lima benua,” harap Betty.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (DKUKM) Kabupaten Sukabumi, Tuty Harahap, mengapresiasi dukungan dan pendampingan yang diberikan pada para petani di daerahnya.

“Ini peluang yang luar biasa, karena potensi di kabupaten ini sebetulnya sangat-sangat luar biasa kalau bahasa kita sebetulnya palugada (apa lu mau gua ada). Karena kabupaten ini adalah kabupaten terluas sepulau Jawa,” tuturnya.

“Artinya, sebetulnya potensinya kalaupun tadi 147 (desa) disebutkan, sebenarnya kalau ini di-push untuk lebih dari itu bisa. Kenapa? Karena sebetulnya kalau empon-empon biofarma itu kan mampu tumbuh di tidak hanya monokultur tapi di bawah tegakan pun bisa,” sambung dia.

Tuty juga mengatakan, kalau nanti budidaya sampai tadi standarisasi, sertifikat dan lain sebagainya yang peruntukan untuk administrasi ekspor itu sudah didampingi, maka dapat berkembang ke banyak desa di Sukabumi.

“Karena kita di sini punya 381 desa, 5 keburahan. Kelurahan ini bisa ketuk tular, di sini hanya membuka jalannya, kemudian daerah lain bisa mengikuti jalannya ketika ditentukan menjadi desa wisata yang lain bisa mengikuti. Harapannya seperti itu.” Pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *